Menggapai impian ke Benua Amerika
Judul : Ranah 3 warna
Pengarang : A.Fuadi
Penerbit : Gramedia
Jumlah halaman : 473 halaman
Harga : Rp65.000,-
Ranah 3 Warna merupakan buku kedua dari trilogi Negri 5 Menara yang ditulis oleh A. Fuadi seorang santri Pondok Pesantren Gontor. Melalui buku ini ia menggambarkan pengalaman hidupnya setelah tamat dari Pondok Madani (Gontor).
Dengan semangat yang membara untuk segera
kuliah, kembalilah ia ke kampung halamannya di Maninjau. Saat di kampung
halaman Alif bertemu kembali dengan Randai sahabatnya. Kebetulan Randai
sedang libur panjang dari ITB. Mimpi alif yang ingin belajar teknologi
tinggi di Bandung seperti Habibie diragukan oleh sahabatnya itu, mana
mungkin Alif bisa lulus UMPTN dan kuliah disana tanpa ijazah SMA. Dari
sinilah alif berjanji pada dirinya sendiri bahwa bagaimanapun caranya ia
harus segera kuliah. Jalan satu-satunya adalah dengan dengan ikut ujian persamaan
terlebih dahulu untuk mendapatkan ijazah SMA. Buku-buku dan catatan ia
kumpulkan. Buku pelajaran SMA yang belum pernah ia pelajari pun didapat
dari meminjam pada teman didekat rumahnya.
Dipeganglah mantra Man jadda wajada sebagai motivasi kalau sedang
kehilangan semangat. Akhirnya ujian persamaan datang juga. Dilepas doa
dari Amak dan Ayah, Alif maju ke medan perang. Beberapa minggu kemudian
pengumuman pun tiba, Alif hanya mendapatkan nilai rata-rata 6,5 dan ia
tak tahu harus bersyukur atau prihatin. Selanjutnya Alif berhadapan
dengan pertarungan yang lebih ketat yaitu UMPTN. Ia pun belajar lebih
keras lagi. Terkadang rasa bosan datang menghampiri, ia membisikkan ke
diri sendiri nasihat Imam Syafi’i, “berlelah-lelahlah, manisnya hidup
terasa setelah lelah berjuang". Tapi lama kelamaan Alif sadar bahwa ia tidak akan bisa diterima di Teknik Penerbangan ITB, ia sudah tertinggal terlalu jauh. Akhirnya Alif memilih jurusan Hubungan Internasional, ia masih mengejar impiannya yang satu lagi, yaitu pergi ke benua Amerika.
Dalam kehidupannya di Bandung mantra Man jadda wajada pun tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Lalu Alif ingat mantra kedua yang diajarkan di Pondok Madani, Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Dengan memegang kedua mantra tersebut ia siap menghadapi berbagai macam rintangan yang akan ia hadapi dikemudian hari. Hingga akhirnya sampailah Alif di tanah Kanada atas usaha yang sungguh-sungguh dan kesabaran yang tertanam dalam dirinya.
Kelebihan dan Kekurangan
A.Fuadi dapat menggambarkan kehidupan pesantren dengan sudut pandang yang berbeda. Selama ini pesantren dikenal sebagai lingkungan yang keras, tetapi A.Fuadi menekankan di dalam bukunya bahwa karena didikan pesantren yang keras serta ilmu-ilmu dan petuah yang ia dapatkan disana ia dapat bertahan menghadapi berbagai macam cobaan hidup cobaan hidup.
Tetapi ada sedikit kekurangan dalam novel ini. yaitu gaya penulisannya yang seperti wartawan sehingga terasa terlalu kaku. Sisi sastra (perasaan) tak begitu terasa
Tetapi secara keseluruhan novel ini tetap bagus. Rasa semangat yang dimiliki pada sosok Alif di novel ini patut kita
contoh. Terkadang rintangan kecil saja yang kita hadapi membuat kita
patah semangat dan putus asa. Padahal diluar sana banyak orang-orang
yang menghadapi rintangan yang jauh lebih besar, tapi semangat mereka
tetap membara demi terlewatinya rintangan-rintangan yang siap
menghadang.