Sabtu, 20 Oktober 2012

resensi ranah 3 warna

Menggapai impian ke Benua Amerika
Judul                     : Ranah 3 warna 
Pengarang            : A.Fuadi
Penerbit               : Gramedia
Jumlah halaman  : 473 halaman
Harga                    : Rp65.000,-

Ranah 3 Warna merupakan buku kedua dari trilogi Negri 5 Menara yang ditulis oleh A. Fuadi seorang santri Pondok Pesantren Gontor. Melalui buku ini ia menggambarkan pengalaman hidupnya setelah tamat dari Pondok Madani (Gontor).

Dengan semangat yang membara untuk segera kuliah, kembalilah ia ke kampung halamannya di Maninjau. Saat di kampung halaman Alif bertemu kembali dengan Randai sahabatnya. Kebetulan Randai sedang libur panjang dari ITB. Mimpi alif yang ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie diragukan oleh sahabatnya itu, mana mungkin Alif bisa lulus UMPTN dan kuliah disana tanpa ijazah SMA. Dari sinilah alif berjanji pada dirinya sendiri bahwa bagaimanapun caranya ia harus segera kuliah. Jalan satu-satunya adalah dengan dengan ikut ujian persamaan terlebih dahulu untuk mendapatkan ijazah SMA. Buku-buku dan catatan ia kumpulkan. Buku pelajaran SMA yang belum pernah ia pelajari pun didapat dari meminjam pada teman didekat rumahnya.

Dipeganglah mantra Man jadda wajada sebagai motivasi kalau sedang kehilangan semangat. Akhirnya ujian persamaan datang juga. Dilepas doa dari Amak dan Ayah, Alif maju ke medan perang. Beberapa minggu kemudian pengumuman pun tiba, Alif hanya mendapatkan nilai rata-rata 6,5 dan ia tak tahu harus bersyukur atau prihatin. Selanjutnya Alif berhadapan dengan pertarungan yang lebih ketat yaitu UMPTN. Ia pun belajar lebih keras lagi. Terkadang rasa bosan datang menghampiri, ia membisikkan ke diri sendiri nasihat Imam Syafi’i, “berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang". Tapi lama kelamaan Alif sadar bahwa ia tidak akan bisa diterima di Teknik Penerbangan ITB, ia sudah tertinggal terlalu jauh. Akhirnya Alif memilih jurusan Hubungan Internasional, ia masih mengejar impiannya yang satu lagi, yaitu pergi ke benua Amerika.

Hari sebelum keberangkatan Alif ke Bandung,  AyahAlif  membelikan sepasang sepatu kulit berwarna hitam. Sepatu inilah yang menapak di tanah perjalanan Alif yaitu Maninjau, Bandung dan Kanada. Itulah sebabnya novel ini diberi judul Ranah 3 Warna.

Dalam kehidupannya di Bandung mantra Man jadda wajada pun tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Lalu Alif ingat mantra kedua yang diajarkan di Pondok Madani, Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Dengan memegang kedua mantra tersebut ia siap menghadapi berbagai macam rintangan yang akan ia hadapi dikemudian hari. Hingga akhirnya sampailah Alif di tanah Kanada atas usaha yang sungguh-sungguh dan kesabaran yang tertanam dalam dirinya.

Kelebihan dan Kekurangan
A.Fuadi dapat menggambarkan kehidupan pesantren dengan sudut pandang yang berbeda. Selama ini pesantren dikenal sebagai lingkungan yang keras, tetapi A.Fuadi menekankan di dalam bukunya bahwa karena didikan pesantren yang keras serta ilmu-ilmu dan petuah yang ia dapatkan disana ia dapat bertahan menghadapi berbagai macam cobaan hidup cobaan hidup.

Tetapi ada sedikit kekurangan dalam novel ini. yaitu gaya penulisannya yang seperti wartawan sehingga terasa terlalu kaku. Sisi sastra (perasaan) tak begitu terasa

Tetapi secara keseluruhan novel ini tetap bagus. Rasa semangat yang dimiliki pada sosok Alif di novel ini patut kita contoh. Terkadang rintangan kecil saja yang kita hadapi membuat kita patah semangat dan putus asa. Padahal diluar sana banyak orang-orang yang menghadapi rintangan yang jauh lebih besar, tapi semangat mereka tetap membara demi terlewatinya rintangan-rintangan yang siap menghadang.